Kamis, 10 Januari 2013

KH.MAKSUM JAUHARI (GUS MAKSUM)

  
Gus Maksum

K.H. Maksum Djauhari
K.H. Maksum Djauhari, yang biasa dipanggil Gus Maksum, punya kebiasaan beda lagi. Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, ini punya hobi memelihara binatang buas di rumahnya. Tak pelak, kediamannya di sekitar pesantren di Desa Kanigoro menjadi semacam kebun binatang mini.
Burung berkicau, merak, berbagai jenis ikan, orangutan, buaya, dan hewan liar lainnya ada di sana. Gus Maksum ingin manusia bisa bergaul dengan binatang.
Tujuannya, apa lagi kalau bukan belajar banyak dari kehidupan dan perilaku makhluk Tuhan itu. “Selain itu, menjadi hiburan bagi para santri, daripada (santri-santri) kelayapan enggak keruan,” ujarnya kepada TEMPO. Kegemaran memelihara binatang ganas cocok dengan penampilannya yang tampak garang.
Perawakannya gagah. Rambutnya gondrong dengan janggut lebat, meski mulai memutih. Jabatan sebagai Guru Besar Perguruan Silat Pagar Nusa, perguruan milik NU, membuatnya makin berwibawa. “Ilmu kanuragannya memang hebat. Saya tahu latihannya, kok,” ujar Gus Dur. Sayang, tubuh lelaki 59 tahun penggemar mobil VW Combi itu kini seperti lumpuh gara-gara sakit asam urat akut.
Gus Maksum harus digendong santrinya untuk menemui TEMPO dan mesti berbaring selama wawancara. Tapi ia tetap bersemangat membantu menyembuhkan pemakai narkoba. Sudah lima tahun klinik pengobatan untuk pecandu berjalan mulus.
Ratusan pemuda sembuh total di tangan Gus Maksum. Yang unik, terapinya hanya dengan memberi buah kurma sebanyak-banyaknya kepada pasien. Untuk membantu konsentrasi, pasien diberi kesempatan merenung sambil berkarya di kebun buah belimbing miliknya di lereng Gunung Kelud.
Tentu kesibukan mengajar dan menyembuhkan pecandu narkoba tak mengurangi waktunya buat menemui tamu yang tak pernah berhenti datang. Adapun anggota DPR dari Partai Kebangkitan Bangsa, Effendy Choirie, punya cerita lain.
Ia mengaku terkesan dengan Gus Hamim, yang ditemuinya saat menjadi santri selama delapan tahun di Pondok Pesantren Langitan, Tuban, Jawa Timur. Gus Hamim adalah adik kandung K.H. Abdullah Faqih, pemimpin dan pengasuh Langitan. “Gus Hamim sangat aneh di mata kami para santri. Kini beliau sudah almarhum,” katanya kepada TEMPO. Kala Effendy remaja, Gus Hamim berusia sekitar 45 tahun. Ia punya kebiasaan berjalan-jalan memutari kawasan pesantren hanya mengenakan sarung.
Tanpa baju dan, maaf, celana dalam. Dia tak malu meski auratnya terlihat orang lain karena menggulung sarungnya terlalu tinggi. Dia cuek saja, tiap malam keluar rumah hanya untuk duduk di pinggir sungai terusan Bengawan Solo sambil merenung.
Para santri mengira, Gus Hamim sedang berkomunikasi dengan Nabi Qidir, nabi yang kemampuannya menyaingi Nabi Musa. Mereka tak berani berkomentar lebih kecuali menganggap keanehan itu se bagai kelebihan sang Gus.
Anggapan para santri, kata Effendy, bisa jadi tak berlebihan karena Gus Hamim dipercaya sangat cerdas. “Beliau tidak gila. Wong cerdas sekali kok,” ujar Effendy. Kata Effendy lagi,
Gus Hamim hafal dan memahami semua kitab di pesantren itu. Dalam memberikan pelajaran membaca kitab tertentu, si Gus pilih-pilih santri, tapi tak jelas kriterianya. Ia tega memaksa seorang santri belajar membaca kitab, walau sebenarnya santri itu tak sreg. “Sebaliknya, meski santrinya memaksa, kalau beliau tak berkenan, ya, ilmu tak diberikan,”
Sumber Tempo

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar